NEWS FLASH

Pembangunan

Endemisitas Malaria Sebatik Menurun ke Zona Hijau

AIYUB | Senin, 09 Desember 2013 - 15:03:04 WIB | dibaca: 1917 pembaca

MENURUN: Sosialisasi kesehatan yang dilaksanakan LKNU yang melibatkan seluruh komponen masyarakat di Sebatik. Dalam sosialisasi tersebut masyarakat diberi penyuluhan akan bahaya dan penanganan penyakit malaria. (07/11/2013)

NUNUKAN– Sebatik menjadi salah satu wilayah di Kabupaten Nunukan dengan endemisitas penderita Malaria yang terbilang tinggi. Hal ini dikemukakan Ketua Umum Pengurus Pusat Lembaga Kesehatan Nahdtahul Ulama (PP LKNU), Dr dr Imam Rasjidi SPOG (K) Onk saat kunjungannya Kamis (6/12) kemarin.
Dalam kunjungannya yang singkat itu, Imam mengatakan di 2012 lalu, endemisitas malaria khususnya yang tercatat di Puskesmas Sei Nyamuk mencapai 226 orang. Namun selama enam bulan program LKNU berjalan, tercatat hanya ada 10 orang tercatat hingga akhir tahun ini.
“Kita sudah mendekati zona hijau, kami belum bisa mengatakan itu zona hijau. Sebenarnya jumlah penderitanya sudah berada di zona hijau, sebelumnya zona kuning,” kata Imam.
Menurunnya endemisitas malaria di Sebatik, kata dia, tak lepass dari pemberdayaan masyarakat di Sebatik. Sehingga secara mandiri, masyarakat bisa mengatasi persoalan dengan sendiri.
“Menggerakkan masyarakat bagaimana pencegahannya, dengan memberikan kelambu, penyuluhan dan advokasi, memberikan motivasi melalui dai. Terutama kalau disini kesehatan terhadap Malaria,” imbuhnya.
Lebih jauh, selain Kalaimantan Timur, program tersebut juga lima menyentuh empat provinsi endemis lainnya. Diantaranya, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Gorontalo dan Sulawesi Tengah.
“Daerah endemis yang mempunyai angka malaria tinggi. Untuk Kaltim, satu Kabupaten, kecamatannya Sebatik. Waktu awal datang angkanya tinggi, dan sekarang ini menurun. Kita mulai  2010, jumlah kabupaten 14, dengan total desa 49, setiap desa ada kader dua orang, dan motivator 1 orang,” jelasnya.
Kehadiran motivator yang berasal dari mubaliq melakukan pendekatan agama.
“Medianya dai jelas, melalui majelis ta’lim, pengajian dan sebagainya. Kader kita bertugas melakukan pendampingan disetiap adanya kasus malaria. Kita tidak melakukan pengobatan itu,” tukasnya.
Imam menambahkan, endesimitas yang diukur melalui Annual Parasitemia Indeks (API), untuk bebas malaria harus dibawah satu orang. Kemudian diatas lima orang, masuk kategori kuning.
“Trennya terus menurun. Ada tiga yang kita lakukan, yakni penjangkauan, kedua pendampingan dan yang ketiga adalah penguatan kapasitas. Penjangkauan artinya, kita turun ke masyarakat, menggerakkan masyarakat. Pendampingan, ketika ada kasus, didampingi ke puskesmas, diberi obat dan diawasi selama masa pengobatan. Kemudian penguatan kapasitas, dengan motivator dan dai, memberikan penyuluhan kepada masyarakat akan bahaya malaria, dan bagaimana cara mengatasinya dan mencegahnya,” cetusnya.
Jauh sebelum program ini berjalan, dituturkan pria berkacamata ini, karakteristik masyarakat Sebatik yang kental dengan praktek pengobatan tradisional kerap menilai gejala-gelaja malaria dengan tidak objektif. Sehingga tak jarang, penanganannya biasanya diupayakan melalui dukun.
“Kita berbagi cerita dengan masyarakat disana. Sebelum program ini LKNU atau sebelum adanya pos kesehatan kita di Sebatik. Gejala-gejala malaria, biasa diartikan dengan guna-guna dan semacamnya. Dan sebenarnya sudah lama, ada kader yang bergerak disana. Setiap ada pasien yang kejang-kejang dan semacamnya, diarahkan. Cuman masyarakat kita banyak yang tidak tahu itu,” sebutnya.
LKNU sendiri menargetkan di akhir 2015 nanti, angka penderita Malaria di Sebatik sudah berada di Zona Hijau.
“Berbagai upaya telah kita sosialisasikan, termasuk dengan bagaimana dengan masyarakat peternak misalnya. Agar posisi kandang ternak, jangan didekatkan dengan rumah. Ventilasi rumah diusahakan jangan banyak yang terbuka, sehingga peluang masuknya nyamuk malaria, bisa dieliminir,” harapnya. (hms)