NEWS FLASH

Informasi Nunukan

Tepung Tawar, Kearifan Tradisi Menyambut Tamu Istimewa

Humas Pemkab Nunukan | Jumat, 11 Maret 2016 - 14:41:53 WIB | dibaca: 1281 pembaca

Menteri Koordinator PMK Puan Maharani, saat di sambut dengan Tepung Tawar dan berbagai iringan tari-tarian.

Pepatah bijak mengatakan bahwa tamu adalah raja, sehingga kedatanganya pun harus disambut dengan istimewa pula. Dan soal penjemputan tamu, Pemerintah Kabupaten Nunukan memiliki tradisi unik ketika menyambut tamu – tamu penting yang datang di Kabupaten Nunukan.

Tradisi unik itu adalah upacara tepung tawar. Tradisi ini adalah budaya suku tidung, suku asli Kabupaten Nunukan.

Tepung Tawar biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu istimewa yang datang, seperti Kapolda, Kepala Kejaksaan Tinggi, dan pejabat pejabat penting dari Jakarta, termasuk para menteri.

Dan baru – baru ini, tamu istimewa yang datang di Kabupaten Nunukan dan mendapat sambutan tepung tawar adalah Menteri Koordinator PMK Puan Maharani, Menkumham Yasona Laoly dan Kepala Kejaksaan Tinggi Kaltim Abdul Kadiroen.

Tepung Tawar diawali dengan pertunjukan tari oleh beberapa gadis dibawah iringan rebana dan gamelan.

Selanjutnya, dua orang penari membawa 2 buah nampan berisi berbagai macam bunga, seperti mawar, kenanga, dan melati menghampiri tamu yang dating.

Di nampan itulah, sang tamu dipersilahkan menginjakkan dua kakinya yang melambangkan pembersihan diri, agar hal – hal yang jahat dan buruk selama dalam perjalanan bisa dibersihkan dalam nampan bunga tersebut.

Kemudian ritual berikutnya adalah menyiramkan air suci yang berada di dalam kelapa gading oleh tetua adat sambil dibacakan sholawat nabi Muhammad SAW. Hal itu menyimbolkan ucapan selamat datang dan semoga keberkahan selalu menyertai para tamu.

Tidak berhenti sampai disitu, para tamu yang datang biasanya akan diberikan baju adat, lengkap dengan topi khas Suku Dayak Lundayeh, dan kalung manik – manik yang artinya menganggap tamu yang datang sudah menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Nunukan.

Ritual Tepung Tawar biasanya dilaksanakan oleh Sanggar Tari Badewa dan merupakan tradisi kuno yang menggambarkan kearifan local dan harus terus dipelihara sebagai kekayaan budaya bangsa. (hms)